Rabu, 15 Juli 2009

Bulan Ternyata Makin Menjauh...

Pada suatu masa—jutaan tahun ke depan—keturunan kita tidak akan bisa melihat bulan seperti sekarang.Tidak ada lagi fenomena gerhana matahari ataupun bulan total, kecuali dalam jejak rekam sejarah sains. Lambat, tetapi pasti bulan semakin bergerak menjauh dari bumi.

Bukan tanpa alasan Neil Armstrong—manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan—meninggalkan jejak panel reflektor yang terdiri atas 100 cermin beberapa menit sebelum dia meninggalkan bulan pada 21 Juli 1969. Reflektor inilah yang kemudian menuntun manusia pada penemuan fakta mencengangkan.

Memanfaatkan reflektor yang tertinggal di bulan, Prof Carrol Alley, fisikawan dari University of Maryland, Amerika Serikat, mengamati pergerakan orbit bulan. Caranya adalah dengan menembakkan laser dari observatorium ke reflektor di bulan. Di luar dugaan, dari hasil pengamatan tahunan, jarak bumi-bulan yang terekam dari laju tempuh laser bumi-bulan terus bertambah.

Diperkuat sejumlah pengamatan di McDonald Observatory, Texas, AS, dengan menggunakan teleskop 0,7 meter diperoleh fakta bahwa jarak orbit bulan bergerak menjauh dengan laju 3,8 sentimeter per tahun.

Para ahli meyakini, 4,6 miliar tahun lalu, saat terbentuk, ukuran bulan yang terlihat dari bumi bisa 15 kali lipat daripada sekarang. Jaraknya saat itu hanya 22,530 kilometer, seperduapuluh jarak sekarang (385.000 km).

Seandainya manusia sudah hidup pada masa itu, hari-hari yang dijalankan terasa lebih cepat. Hitungan kalender pun bakal berbeda. Bagaimana tidak, jika dalam sebulan waktu edar mengelilingi bumi hanya 20 hari, bukan 29-30 hari seperti sekarang. Rotasi bumi ketika itu pun berlangsung lebih cepat, hanya 18 jam sehari.

Jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Lantas, mengapa ini bisa terjadi?

Takaho Miura dari Universitas Hirosaki, Jepang, dalam jurnal Astronomy & Astrophysics mengemukakan, jika bumi dan bulan, termasuk matahari, saling mendorong dirinya. Salah satunya, ini dipicu interaksi gaya pasang surut air laut.

Gaya pasang surut yang diakibatkan bulan terhadap lautan di bumi ternyata berangsur-angsur memindahkan gaya rotasi bumi ke gaya pergerakan orbit bulan. Akibatnya, tiap tahun orbit bulan menjauh. Sebaliknya, rotasi bumi melambat 0,000017 detik per tahun. (Kompas)

Minggu, 12 Juli 2009

Nasi goreng


Nasi goreng (Hanzi) adalah sebuah komponen penting dari masakan tradisional Tionghoa, menurut catatan sejarah sudah mulai ada sejak 4000 SM. Nasi goreng kemudian tersebar ke Asia Tenggara dibawa oleh perantau-perantau Tionghoa yang menetap di sana dan menciptakan nasi goreng khas lokal yang didasarkan atas perbedaan bumbu-bumbu dan cara menggoreng.

Nasi goreng sebenarnya muncul dari beberapa sifat dalam kebudayaan Tionghoa, yang tidak suka mencicipi makanan dingin dan juga membuang sisa makanan beberapa hari sebelumnya. Makanya, nasi yang dingin itu kemudian digoreng untuk dihidangkan kembali di meja makan.

Minggu, 07 Juni 2009

Jiwa Dalam Sepiring Pecel

Sederhana namun kaya

Kaya namun sederhana

Mungkin layaklah jika hal itu nyata dalam sepiring atau sepincuk nasi pecel. Makanan rakyat yang sarat serat dan gizi (khasiat), yang menjadi sarapan pagi banyak kalangan, disuka dari yang gepeng (gelandangan pengemis)-jika ada kepeng- sampai kalangan berdasi yang mengkilap beraroma parfum dari Paris bebas bau keti. (hehehe). Dijualnyapun dari pinggir embong (Jw Timuran : jalan) hingga resto gedong yang harganya bisa (boleh) selangit.

Ibarat bangunan, kelompok sayuran rebus adalah batu landasan utama bagi terbentuknya sepiring pecel yang enak, memilih jenisnyapun manasuka kita sendiri, apa mau pakai kecambah atawa togel…eh..salah…toge, weetje!!!! Atau tergantung wilayahnya…semisal pecel di kawasan Kebumen hingga Banyumas suka menambahkan bunga honje merah muda yang segar untuk tambahan pecelnya, dan diselipkan di antara pikulan para penjual pecel di KA-KA kelas ekonomi. Sedangkan untuk pecel ala Blitar, mereka suka menambahkan bunga turi putih yang direbus demi meramaikan kancah perpecelan, rasa bunganya renyah-renyah manis. Sedangkan untuk kawasan lain, khususnya yang khas Kediri ditambahkan sambal tumpang yang bahan dasarnya dari tempe bosok (tempe yang dibusukkan). Wah, intinya inilah bentuk ke-serbaboleh-an dalam wujud sayur pecel. Ke-serbabolehan yang bergizi, tidak merusak.

Bangunan itu masih direkatkan lagi dengan bumbu pecel yang terbuat dari kacang sangrai, cabe merah, cabe rawit, bawang putih, garam, gula merah dkk. Rasanyapun bisa memilih, mau rasa tak pedas, rasa sedang, rasa pedas atau ra…sa mbayar!!! (Jw : Tidak usah membayar). Disini, bumbu pecel yang sudah dicairkan dengan air matang ini menjelma sebagai pengikat semua sayuran pecel yang semula berbeda-beda. Pendek kata, didalam sepiring pecel sebelum bermuara ke dalam lambung kita ada sebentuk bhinneka tunggal ika. Iya, biar berbeda jenisnya, namun dipersatukan oleh hanya sesendok dua sendok bumbu pecel yang enak….

Keragaman dalam pecel ini masih ditambah lagi dengan aneka lauk. Pilih mana? Tempe goreng, telor matasapi, telor asin, bacem atau dimakan dengan polosan tanpa lauk? Boleh-boleh saja kok, senyampang tidak melenceng dari jatidiri pecel. Masih ditemani lagi dengan rempeyek kacang, lalapan khas pecel seperti biji lamtoro (petai cina) bukan biji besi, kemangi plus irisan ketimun segar…hmmm…..uenak puol!!! Pecel Madiun terkenal sangat lezat, pecel Blitar terkenal manis, dan dari Kediri menyumbang sambal Tumpang. Pendek kata biarpun berbeda penyajian, namun namanya tetap sama….Pecel yang lezat untuk sarapan!!!